Harga Gula Kelapa di Lamsel Bergerak Naik
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG — Permintaan gula kelapa atau gula merah dan gula aren di Lampung, semakin meningkat menjelang bulan suci Ramadan dan hari raya Idul Fitri 2018.
Pedagang gula kepala di Desa Pasuruan, Penengahan, Lampung Selatan, Endang (48), mengatakan, kebutuhan gula kelapa umumnya memang dipengaruhi tingkat kebutuhan dari pelaku usaha kuliner. Gula merah banyak digunakan untuk pembuatan kuliner menu berbuka puasa dan sebagian untuk membuat kue kering hari raya Idul Fitri.
Endang menyebut, pada hari normal bisa menyediakan sekitar 50 kilogram gula merah biasa, dan 30 kilogram gula aren dan terjual habis dalam waktu setengah bulan.

“Pada hari biasa, penggunaan gula merah dan gula aren memang terbatas pada kebutuhan skala kecil, tapi jelang Ramadhan dan hari raya semakin meningkat dari sektor usaha kuliner dan pembuatan kue,” terang Endang, Selasa (1/5/2018).
Menurut Endang, sebagian gula merah hasil menderes pohon kelapa didatangkan dari wilayah kecamatan Palas, sementara gula aren didatangkan dari kecamatan Rajabasa, sebagian dari Gisting, Talangpadang di kabupaten Tanggamus.
Harga gula merah, kata Endang, saat ini cenderung naik mengikuti permintaan, di tingkat pengecer harga gula merah berkisar Rp12.000 hingga Rp13.000 per kilogram dan kini naik menjadi Rp15.000 per kilogram.
Gula aren yang semula dijual dengan harga Rp20.000 per kilogram bahkan sudah naik menjadi Rp25.000 per kilogram. Harga dua jenis gula menyesuaikan harga dari para produsen, ongkos kirim sekaligus mengikuti permintaan pasar.
“Kenaikan harga gula merah tentunya menguntungkan bagi penjual sekaligus pemilik usaha pembuatan gula merah, meski keuntungannya relatif kecil,” cetus Endang.
Kenaikan harga gula merah atau gula kelapa juga diakui oleh Purnomo, produsen gula merah di Desa Pematangbaru, kecamatan Palas. Ia menyebut, harga gula merah di level produsen masih berkisar Rp8.000 per kilogram, bahkan sebelumnya hanya Rp6.000. Namun, kini mulai meningkat di harga Rp10.000 per kilogram.
Gula merah tersebut umumnya diambil oleh para pengepul yang menjual kembali gula ke sejumlah penjual di pasar dan warung. “Kami tergantung dari pengepul atau bos, karena modal usaha dari mereka, termasuk kenaikan harga tergantung kenaikan di pasar dan pengepul,” papar Purnomo.
Namun demikian, katanya, kenaikan harga gula merah ini belum cukup memberi keuntungan bagi produsen gula. Ia berharap, selain harga bisa lebih naik lagi dan ada bantuan usaha dari pemerintah bagi produsen gula di wilayah tersebut.
Ia menyebut, selama ini usaha gula masih mengandalkan modal dari bos untuk menyewa pohon kelapa dan membeli peralatan.
Irawati, produsen gula kelapa di desa yang sama menyebut, selain membuat gula kelapa juga terkadang membuat gula aren. Keberadaan pohon aren di perbukitan wilayah tersebut ikut mendukung kelancaran produksi.
Sebelumnya, harga gula aren di level produsen dijual dengan harga Rp19.000 per kilogram dan kini dijual Rp21.000. Proses pembuatan yang lebih sulit dan langkanya pohon aren membuat gula aren lebih mahal dibandingkan gula kelapa.
“Banyak pembeli yang mencari gula aren, namun karena kita sudah terikat dengan pengepul sekaligus bos, terkadang kita tolak untuk dibeli,” tegas Irawati.
Selain sulit dan jumlahnya sedikit, katanya, gula aren hanya diminta oleh pemilik usaha kuliner pengguna gula aren. Cita rasa khas gula aren disebutnya membuat banyak pembeli memilih gula aren, meski harganya lebih tinggi dibanding gula kelapa biasa.
Selain itu, gula aren juga hanya diproduksi di wilayah yang masih banyak terdapan pohon aren. Kenaikan harga gula merah dan aren diakui Irawati bisa dipergunakan untuk modal pembuatan gula sekaligus persiapan Ramadhan dan lebaran Idul Fitri.